Alat Bantu Kesehatan Untuk Difabel

  • April 24, 2020

Alat Bantu Kesehatan Untuk Difabel- Kelompok disabilitas sebagaimana dipahami sejauh ini seperti kelompok yang memiliki kemampuan berbeda, tentu memiliki cara hidup yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaannya lebih mudah ditemukan ketika para penyandang cacat harus menggunakan alat untuk menjalani kehidupan sehari-hari mereka. Bantuan umum misalnya kursi roda untuk cacat motorik, alat bantu dengar untuk tuna rungu, dan tongkat untuk penyandang cacat.

Alat-alat ini harus dipahami sebagai bagian dari badan variabel. Ini karena alat yang digunakan orang cacat seperti penggantian dari anggota yang tidak dapat digunakan. Tongkat berjalan yang digunakan oleh tunanetra untuk berjalan adalah alternatif bagi mata, yang memberikan kenyamanan saat berjalan, karena kursi roda adalah alternatif untuk kerusakan pada kaki motor.

Tampaknya fungsi bantuan yang digunakan oleh para penyandang cacat tidak dipahami secara luas oleh berbagai kelompok. Pengalaman saya sebagai orang buta menggunakan tongkat mobilitas mengatakan ini. Ada orang yang menganggap tongkat yang saya gunakan untuk mobilitas adalah alat untuk orang dengan cedera kaki. Selain itu, bahkan ada orang yang berpikir itu adalah tongkat narsisistik (tongksis) untuk mengambil gambar, dan beberapa bahkan mengkhawatirkannya sebagai alat teroris.

Pengalaman saya terjadi di tempat yang berbeda, yang sayangnya menunjukkan bahwa kurangnya pemahaman tentang masalah ini bersifat multisektoral. Saya tidak mengerti pemahaman tentang lingkungan di universitas, masjid, dan masyarakat umum.

Pengalaman saya tentang masyarakat yang tidak tahu apa-apa tentang pendidikan tinggi terjadi ketika saya masih mahasiswa baru. Kolega percaya bahwa tongkat yang saya gunakan adalah tongkat yang membantu seseorang terluka di kaki karena kecelakaan.

Melihat fakta ini, kita dapat membuktikan bahwa bahkan di lingkungan akademik, masih ada orang yang kurang memahami variabel, jika mereka tidak ingin mengatakan bahwa masih banyak. Meskipun sangat jelas bentuk tongkat yang digunakan oleh orang buta dan tongkat yang digunakan oleh orang-orang dengan cedera kaki sama sekali berbeda.

Sementara itu, ada pengalaman lain dengan interaksi sosial sehari-hari yang sering saya temukan adalah bahwa tongkat yang saya gunakan sering dianggap tongkat narsis (tongkat narsis) yang biasanya digunakan untuk gambar. Mengenai pengalaman ini, saya bertemu dengannya mulai dari halte, kios dan tempat umum lainnya. Pada pandangan pertama, memang benar bahwa tongkat narsis dan tongkat yang digunakan oleh orang buta memiliki kesamaan, tetapi jika diperiksa lebih sering, mereka masing-masing memiliki kegunaan dan fungsi yang berbeda.

Cek Pembuat Kaki Palsu, Tangan Palsu dan Korset Skoliosis Serta Sepatu Ortopedi di Kurnia Putra Ortopedi

Pengalaman terakhir saya ketika saya sholat di masjid juga tidak kalah menarik. Tongkat yang saya gunakan bahkan dianggap sebagai bom oleh seseorang. Batang besi yang dapat dilipat diyakini menyerupai tabung yang sering digunakan sebagai detonator, sedangkan elastisitas yang menghubungkan batang pembuat besi adalah kabel yang menghubungkan bahan peledak. Akibatnya, saya harus menjelaskan bahwa tongkat yang saya gunakan adalah alat yang penggunaan mobilitasnya dinonaktifkan secara fisik. Ini benar-benar menunjukkan kesadaran masyarakat tentang tindakan teroris, serta menunjukkan kurangnya pemahaman tentang alat-alat kecacatan yang harus dianggap sebagai bagian dari tubuh variabel.

Pengalaman saya menunjukkan bahwa masyarakat salah paham tentang penggunaan dan fungsi bantuan disabilitas masih terjadi. Ironisnya adalah bahwa hal itu terjadi di berbagai lingkungan, mulai dari lingkungan akademik hingga lingkungan ibadah.

Faktor-faktor yang Menyebabkan Pemahaman Terhambat.

Faktor yang dapat dikatakan sebagai alasan terhambatnya variabel yang tidak berperikemanusiaan adalah tidak tersedianya variabel di tempat-tempat umum. Penelitian yang dilakukan oleh Slamet Tohari, yang diterbitkan dengan judul “Pendapat Disabilitas dan Akses ke Fasilitas Publik untuk Penyandang Cacat di Kota Malang” dalam Journal of Disability Studies Indonesia menunjukkan hubungan antara kurangnya aksesibilitas di ruang publik dengan perubahan pemahaman publik.

Penelitian oleh Slamet Tohari ini menghasilkan data yang menunjukkan bahwa tempat-tempat umum di Malang tidak memberikan akses kepada para penyandang cacat sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku yang juga berimplikasi pada kurangnya interaksi sosial antara variabel dan non-disabilitas. Tercatat bahwa 97% fasilitas umum di Malang tidak memasang blok pemandu untuk orang buta, 85% tidak menyediakan jalan landai untuk pengguna kursi roda,

Dan 83% tidak menyediakan kamar mandi untuk orang cacat. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa 75% tempat ibadah tidak tersedia. Ada juga sektor pendidikan yang penting saat ini, 84% di antaranya tidak menyediakan akses.

Salama Tahari mengatakan dalam tulisannya bahwa kelompok-kelompok penyandang cacat menderita isolasi sosial karena kurangnya ketersediaan. Kurangnya aksesibilitas adalah alasan mengapa penyandang cacat jarang ditemui di tempat-tempat umum, yang mengarah pada kurangnya pemahaman publik karena mereka tidak pernah berinteraksi.

Pernyataan Salama Tahari didukung oleh data yang termasuk dalam penelitian ini. Hanya 30,85% dari populasi Malang menghadapi variabel di tempat-tempat umum. Selebihnya mengatakan bahwa pertemuan dengan penyandang cacat terjadi di panti pijat, rumah dan tempat kerja terdekat.

Hubungan antara tidak dapat diaksesnya dan kurangnya pemahaman variabel diilustrasikan oleh pemahaman orang-orang Malang hingga 37% dari mereka yang menganggap kesalahan variabel dan 24% menganggap kebutuhan yang berbeda menyedihkan. Bahkan, data ini cukup untuk menunjukkan bagaimana pemahaman orang terhadap suatu variabel yang tentu saja juga terkait dengan pemahaman masyarakat tentang alat yang digunakan oleh variabel tersebut.

Sayangnya, data ini diperoleh di kota Malang yang merupakan kota yang sebelumnya diidentifikasi oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai kota pendidikan yang komprehensif, serta menjadi lokasi salah satu universitas yang merupakan pelopor dalam menerapkan pendidikan tinggi komprehensif yaitu Universitas Brawijaya. Jika fakta ini ditemukan di kota terbesar kedua di Jawa Timur dan kota yang pernah diklasifikasikan sebagai kota untuk pendidikan inklusif, lalu bagaimana dengan kota yang bukan kota untuk pendidikan inklusif?

Liam

E-mail : Liam@gmail.com

Submit A Comment

Must be fill required * marked fields.

:*
:*